Teladan Rasulullah dalam Bertutur
Dalam ceramahnya, Ustadz Amir turut mengangkat kisah Anas bin Malik yang disebut tinggal bersama Rasulullah SAW selama sekitar 10 tahun. Kisah tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana kelembutan Rasulullah ketika berkomunikasi.
“Wahai saudaraku, kalau dia berbicara kepadaku, dia akan berkata, ‘Anas, mana pekerjaanmu yang bisa aku tolong? Anas, mana pekerjaanmu yang bisa aku bantu?’” tutur Ustadz Amir.
Ia juga mengisahkan peristiwa seorang sahabat yang mengalami batal wudu setelah mengeluarkan angin di tengah majelis. Dalam kisah tersebut, Rasulullah SAW tidak menunjuk atau mempermalukan orang yang bersangkutan.
“Di sinilah kesantunan dan kelembutan Nabi. Kalau Nabi lakukan itu, sahabat yang buang angin pasti malu dan rendah diri. Tetapi Nabi tidak melakukan itu,” jelasnya.
Ustadz Amir kemudian mengaitkan keteladanan tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengajak jemaah menjadikan Maulid Nabi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan kesempatan untuk memperbaiki perilaku dan hubungan sosial.
Menutup tausiah, ia mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib mengenai pentingnya menempatkan akal sebelum lisan.
“Orang cerdas dia letakkan akalnya di depan, lisannya di belakang. Sebelum dia ngomong dan bicara, dia sudah pikirkan dengan matang dan baik apa kata-kata yang dia lontarkan,” jelasnya.
“Jagalah lisan kita. Karena itu adalah satu dari bahagian akhlak yang diajarkan oleh baginda Rasul kepada kita dalam kehidupan ini,” pesannya.





