Dugaan Permintaan Rp50 Juta dalam Mediasi Sengketa Pagar Medan Barat Disorot, Dr. M. Sa’i Rangkuti Buka Rekaman

Sengketa akses jalan di Kelurahan Sei Agul memanas setelah pagar yang menutup akses rumah kos dibongkar. Kuasa hukum Zulkarnain Parinduri menyebut ada dugaan permintaan sekitar Rp50 juta dalam proses mediasi, sementara pihak yang disebut terkait belum memberikan klarifikasi.

Dua pihak (posisi kanan Kuasa Hukum Zulkarnain Parinduro, Dr. M. Sa'i Rangkuti, S.H., M.H) yang bersengketa terkait akses jalan tampak berjabat tangan di depan rumah yang berada di Lingkungan 13, Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, di tengah persoalan pagar yang menutup akses menuju sejumlah rumah, Jumat (4/9/2026). (medan.kedannews.co.id/Foto: Ist)

MEDAN, medan.kedannews.co.id – Persoalan sengketa pagar yang menutup akses menuju rumah kos milik Zulkarnain Parinduri di Lingkungan 13, Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, berkembang ke ranah hukum.

Perkembangan tersebut muncul setelah adanya dugaan permintaan uang sekitar Rp50 juta dalam proses mediasi terkait sengketa tersebut.

Dr. M. Sa’i Rangkuti, S.H., M.H bersama tim yang bersengketa terkait akses jalan tampak berjabat tangan di depan rumah yang berada di Lingkungan 13, Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, di tengah persoalan pagar yang menutup akses menuju sejumlah rumah, Jumat (4/9/2026). (medan.kedannews.co.id/Foto: Ist)

Dugaan tersebut disampaikan kuasa hukum Zulkarnain Parinduri, Dr. M. Sa’i Rangkuti, S.H., M.H. Menurutnya, pihaknya memiliki rekaman yang berkaitan dengan dugaan permintaan uang tersebut. Namun, hingga berita ini ditayangkan, pihak yang disebut terkait belum memberikan klarifikasi.

Perselisihan yang sebelumnya telah terjadi dan berlanjut hingga pada Jumat, 4 September 2026, ketika terjadi percekcokan antara pihak Zulkarnain Parinduri dengan Dahlil Maha terkait pemagaran akses jalan menuju sejumlah rumah yang berada di bagian dalam lokasi.

Dahlil Maha disebut mengaku memiliki dasar kepemilikan atas tanah yang digunakan sebagai jalan tersebut berdasarkan hibah dari orang tuanya. sehingga dirinya memagar lintasan akses jalan tersebut. Saat ditanya mengenai surat tanah yang menjadi dasar pemagaran, Dahlil Maha disebut tidak langsung menunjukkannya.

Pagar yang berdiri di lokasi tersebut memiliki panjang sekitar 14 meter dengan ketinggian sekitar 2 meter. Keberadaan pagar membuat akses keluar-masuk penghuni tiga rumah di bagian dalam lokasi menjadi tertutup.

Dahlil Maha, yang diperkirakan berusia sekitar 60 tahun lebih, juga menyatakan bahwa jalur tersebut telah digunakan sejak sekitar 1983. Dari pantauan di lokasi sebagaimana digambarkan, jalur yang dipersoalkan merupakan gang yang selama ini dilalui warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *